Quando, Quando, Quando

Bangun pagi, shalat subuh, tidur lagi sampai kira-kira jam 9 adalah kerjaku pagi ini. Sarapan mi rebus yang udah disiapin mama, trus ngenet dan nonton tv, The O.C. and Oprah. Sesuatu hal yang udah aku nanti-nantiin banget sejak terakhir pulang ke rumah dan harus ke pergi kota yang sesak meneruskan kewajibanku menyelesaikan semester 4. Duh, udah, stop talking about campus. It’s time for me melakukan sesuatu yang gak perlu, bersantai-santai.

Seminggu di rumah membuat aku merasa tubuhku sedikit lebih melar, sorry, lebih tepatnya melar banget, mengingat semua makanan tersedia tanpa perlu harus beli dulu atau harus mikir-mikir mau makan lagi karena kebanyakan jajan. Make celana dihipsterkan, make baju kaos gak pede karena keliatan buncit. Man, it’s only in a week. But, it’s okay…walau dalam hati deg-degan juga. Uh, damn, ntar semester baru datang ke kampus dengan perut buncit??? Temen-temen di kampus juga udah janjian kalo pas kita balik kuliah lagi ntar jangan sampai ada saling ledek-ledekan karena tambah gemuk. Ya, berhubung gak ada yang magang di antara kita, jadi pastinya banyakan santai di rumah.

Kenapa yah, setiap cewek kalo bicara masalah gemuk agak-agak sensitif. Yap, tak lain dan tak bukan adalah bahwa image di Indonesia (negeri kita yang tercinta ini. red) sangat menjunjung tinggi prinsip cewek yang cantik itu adalah cewek yang putih, cantik, tinggi, mancung (bila perlu sampe operasi manjangin idung segala. red), dan pastinya langsing. Yah, memang gak dipungkiri juga kalo menurut aku sebagai cewek Indonesia cewek-cewek yang memiliki kelebihan seperti yang disebutin tadi memang harus dibilang cantik physically. Even dari kelima hal yang disebutin tadi aku cuma memiliki satu kelebihan yang kata orang sih idungku mancung keturunan orang tua (pede yah???), tapi itu semua udah alhamdulillah banget (walaupun dalam hati kecil aku itu hanya untuk menghibur diri, tapi gak papa…). Sampe-sampe nih karena hidung mancungku dan kulit yang gak begitu putih, aku pernah diajakin ngomong bahasa India ama orang India asli di Malaysia. Hahahaha.

Hm, yah sudahlah..menutup cerita aku kali ini aku mau mengutip beberapa kalimat yang aku suka banget dari buku Filosofi Kopi-nya Dewi Lestari. Prosa yang berjudul Spasi ini aku baca berulang-ulang karena bagi aku maknanya mendalam banget. Bagi kamu yang baca blog ini, menurut aku gak ada salahnya pinjem atau beli buku ini. Kalimatnya begini :

Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi?

Bukankan kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang bila ada ruang? Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan, tapi ia tak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu.

(taken from Filosofi Kopi by Dee, 2006)

Leave a Reply