genderang perang
Wednesday, June 27th, 2007entah apa yang terjadi sehingga kata genderang dan perang terlintas begitu saja.seperti ingatan akan puisi lawas. namun ada suatu perasaan ingin mengeluh yang sangat dalam dan penyesalan yang tentu saja datangnya tak tepat waktu. ingin rasanya mengeluh akan kecengenganku sebagai seorang ’single fighter’ (tepat gak ya digunakan kata ini..ya gitu lah…) hidup tanpa asuhan orang tua yang terpisah jarak dan pulau. ingin rasanya mengeluh untuk pulang dan tinggal bersama kehangatan mereka. namun setengah lebih perjalanan mencari masa depan rasanya tak cukup bermakna jika pulang bergitu saja dengan tangan kosong.
so, musik adalah genderang untuk memecah perang itu. seperti halnya band-band daerah yang (tanpa bermaksud mengecilkan arti keaderahan, secara jakarta berisi intan-intan berpotensi dari daerah..termasuk aku..amiiiin) memecahkan esensi kualitas musik negaraku yang menurutku sempat naik namun jatuh lagi akhirnya. aku tidak akan mau menyamaratakan semua band daerah seperi itu. karena banyak juga band yang pastinya berkualitas baik secara independen maupun komersil menyedot dengan kualitas tak diragukan. terinspirasi dari dua majalah musik lokal, invasi band-band daerah ini memang kadang bagus, kadang memalukan. dan memang tidak bisa disama ratakan arti musik bagi semua orang, begitu juga dengan arti kualitas bagi semua orang. menurutku, kalau sebuah band yang rasanya tidak pantas dikomersilkan, merusak mata, bahkan telinga, jauh2 deh dari yang namanya komersialitas. mengasah kualitas lewat jalur indie kadang tak salah juga. mengerti pasar tanpa melengahkan kualitas dan seni rasanya harus dipikirkan band-band yang menurut aku harus banyak belajar. mungkin aku sok mengkrtisi, namun setelah berpikir dan membaca, band-band seperti K***** band perlu lebih banyak mengekspolorasi kuliatas musik mereka. sedih rasanya melihat begitu. di indie tak perlu ragu lagi. tapi, mana berlian-berlian seperti Padi, GIGI, yang juga dari daerah tapi bisa terngiang walau memang buka masanya. Era Nidji dan Maliq n D’essensials cukup memikat, namun kini..ah. ring back tone pun sudah ternoda. rasanya cukup percaya pada naif saja. kejatuhcintaanku kini akan seni dan bisnis (komersialitas). aku mungkin bukan siapa-siapa, tapi tak apakan sedikit meluapkan rasa sebagai seorang awam penikmat musik.
back to me myself..secara hari liburpun tlah tiba ingin rasanya berjalan2 lagi. bandung sebagai place of interest rasanya menjadi kota nomor satu yang ada dalam list liburku. journal kegiatan sampai tanggal 15 Juli pun telah diatur demi menikmati kesenggangan waktu sebelum melumat tebalnya bahan skripsi dan letihnya berpikir akan kelulusan nanti. semoga kecengengan ini tidak akan menjadi boomerang yang membuat aku lemah untuk mencapai sebuah semangat juang. kata orang bijak, yang penting proses, bukanlah hasil. tapi sebagai manusia biasa, mana ada yang liat usaha pasti liat IPK…hahaha sudahlah. cukup, banyak bicaranya..pulang dan hempaskan badan di atas kasur, teman dan berdoalah agar usahamu mencapai cerah di hari esok. tak usah mengeluh lagi. kalo kata naif, tersenyumlah meski kau terluka.
peace out!


